Sudah 3 jam 20 menit lebih Cabi duduk termangu di pinggir sungai. Ia sibuk mengamati ketiga temannya — Ciplak Bebek, Ciplik Bebek, dan Cipluk Bebek — yang sedang berenang.
Iri.
Ingin rasanya ia juga ikut menceburkan diri ke sungai yang dingin dan jernih itu, dan ikut berenang dengan gaya kupu-kupu, mengejar bebek-bebek tersebut. Selama ini orang babi tuanya hanya mengajarkan cara untuk berguling-guling di lumpur dengan baik dan benar. Gak pernah sekalipun mereka menyinggung masalah berenang.
“Lagi ngapain Bi?”, sapa Libi si Musang yang tiba-tiba muncul dari balik batu.
“Itu”, jawab Cabi sembari menghela nafas dalam-dalam, “aku ingin bisa berenang seperti bebek-bebek itu.”
“Apalagi itu, si Cipluk”, lanjutnya. Hidungnya diarahkan ke arah Cipluk Bebek. “Ia bahkan bisa berenang hanya dengan menggunakan paruhnya.”
Libi terdiam. Berpikir. Sejenak kemudian matanya berkilau dan senyumnya tersungging.
“Mau aku ajarin berenang? Aku jago loh, waktu SD aja juara berenang tingkat kecamatan.”
Cabi menoleh ke arah Libi. Secercah harapan hadir di benaknya.
Read more…



